7 Tahapan Dakwah Fardiyah

7 Tahapan Dakwah Fardiyah

Dakwah Fardiyah atau dakwah secara personal merupakan salah satu metode dakwah yang sangat efektif. Seorang dai dapat berkenalan lebih dekat dengan objek dakwah. Dengan begitu, pertemanan yang erat antara dai dan objek dakwah diharapkan memuluskan setiap langkah dakwah.

Selain itu, dai juga lebih mudah mengontrol perkembangan objek dakwah.

Berbeda dengan dakwah yang dilakukan secara masif. Dakwah fardiyah memungkinkan terjadi komunikasi dua arah. Dai tidak serta merta meinggalkan objek dakwah selepas dakwah disampaikan.

Berikut ini adalah 7 tahapan dakwah fardiyah yang pernah ditulis oleh Syaikh Musthafa Masyhur. Selamat mencoba!

1. Jalin Hubungan Baik

Binalah hubungan yang baik. Berusahalah mengenal lebih dalam setiap orang yang hendak didakwahi. Inilah langkah pertama yang harus dilakukan sebelum beralih ke langkah selanjutnya.

Upaya ini berguna untuk menarik simpati objek dakwah agar hatinya lebih terbuka. Sehingga ia siap menerima apa pun yang kita katakan.

Pembinaan hubungan mesti dilakukan secara intens. Sampai objek dakwah merasa nyaman dengan orang yang mengajaknya berbicara.

2. Bangkitkan Iman

Membangkitkan iman yang mengendap dalam jiwa. Pembicaraan hendaklah tidak langsung diarahkan pada masalah iman, namun sebaiknya berjalan secara alami. Seolah-olah tidak disengaja.

Manfaatkan momen tertentu untuk memulai mengajaknya berbicara tentang persoalan keimanan. Melalui pembicaraan yang alami, persoalan yang dipaparkan akan mudah mendapatkan sambutan.

Setelah itu, dai menindak-lanjuti dengan meningkatkan gairah keimanannya. Misal, dengan mengajaknya shalat berjamaah atau tilawah Al-Quran. Dari situlah muncul perhatian yang besar terhadap masalah-masalah keislaman dan keimanan.

3. Kenalkan Ibadah

Membantu memperbaiki keadaan dirinya dengan mengenalkan perkara-perkara yang bernuansa ketaatan kepada Allah dan bentuk-bentuk ibadah yang diwajibkan

Pada tahap ini perlu pula dibekali dengan bahan-bahan bacaan dari referensi yang sederhana, seperti Dasar-dasar Islam, Prinsip-prinsip Islam (Abul ‘Alaa Al Maududi) dan lain-lainnya.

Di samping itu, perlu diperkenalkan pula dengan lingkungan yang baik dan komunitas masyarakat yang shalih. Agar dapat menjaga nilai-nilai yang telah tertanam dan meneladani kehidupan orang shalih. Mutaba’ah dan pemantauan dalam tahap ini memerlukan kesabaran yang tinggi sehingga dapat membimbing perjalanannya di atas jalan dakwah dan terhindar dari faktor-faktor yang buruk.

4. Ibadah yang Lebih Luas

Selanjutnya, seorang dai dapat menjelaskan tentang pengertian ibadah secara syamil agar memiliki kepahaman yang sahih tentang ibadah disertai niat yang benar dan berdasarkan syara’.

Sampaikan pemahaman yang tidak sempit terhadap ibadah. Ibadah bukan sebatas rukun Islam yang empat saja (shalat, puasa zakat dan haji). Akan tetapi jelaskan pengertian ibadah yang luas. Sehingga ia memahami bahwa setiap ketundukan seorang hamba pada-Nya dengan mengikuti aturan yang telah digariskan akan bernilai ibadah.

5. Ajak Berdakwah

Menjelaskan kepada objek dakwah bahwa kesalihan sendiri tidaklah cukup.

Kita tidak cuma dituntut sebagai seorang muslim yang taat menjalankan kewajiban ritual, berperilaku baik dan tidak menyakiti orang lain, lalu selain itu tidak ada lagi.

Keberadaan kita mesti mengikatkan diri dengan keberadaan muslim lainnya dengan berbagai macam problematikanya. Pada tahap ini pembicaraan diarahkan untuk menyadarkan bahwa persoalan Islam bukan urusan perorangan. Melainkan urusan tanggung jawab setiap muslim terhadap agamanya.

Perbincangan ini dilakukan agar mampu mendorongnya untuk berpikir secara serius tentang bagaimana caranya menunaikan tanggung jawab itu serta menjalankan segala tuntutan-tuntutannya.

6. Amal Jama’i

Menjelaskan kewajiban untuk mengemban amanah umat dan permasalahannya. Kewajiban di atas tidak mungkin dapat ditunaikan secara individu. Masing-masing orang secara terpisah tidak akan mampu menegakkannya. Maka perlu sebuah jamaah yang memadukan potensi semua individu untuk memperkuat tugas memikul kewajiban berat tersebut. Di tahap ini objek dakwah disadarkan tentang pentingnya amal jama’i dalam menyelesaikan tugas besar ini.

7. Perlunya Jamaah

Menyadarkan padanya tentang kepentingan sebuah jamaah. Pembicaraan ini memang krusial dan rumit sehingga memerlukan hikmah dan kekuatan argumentasi yang meyakinkan.

Oleh karena itu, harus dijelaskan padanya bahwa bergabung dengan sebuah jamaah harus meneliti perjalanan jamaah tersebut. Jangan sampai terburu-buru untuk menentukan pilihan terhadap sebuah jamaah yang akan dijadikannya sebagai wahana merealisasikan dasar-dasar Islam.

Demikianlah langkah-langkah dalam melaksanakan dakwah fardiyah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Musthafa Masyhur. Selamat mengamalkan, semoga Allah SWT memudahkan kita membimbing manusia ke jalan-Nya. Aamiin. []

3 Tangga Berislam ala Anis Matta

3 Tangga Berislam ala Anis Matta

Beruntunglah Anda, karena ternyata Allah-lah yang menamai Anda sebagai Muslim sejak dahulu.

Dia berfirman, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)

Tidak bisa tidak, Anda harus memilih Islam sebagai agama dan jalan kehidupan dengan kesadaran AKAL yang penuh. Disertai dorongan PERASAAN yang tulus. Termasuk menjalaninya sebagai SIKAP dan PERILAKU dalam kehidupan pribadi, keluarga, sosial dan pekerjaan.

Udkhulu Fii al-Silmi Kaaffah (Masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh).” (QS Al Baqarah: 208)

Untuk menerapkan Islam secara menyeluruh, setiap kita harus melalui tiga tangga utama. Dengan demikian, kita mampu mengaktualisasikan Islam dalam berbagai dimensi kehidupan kita.

Apa saja 3 tangga berislam itu?

1. Tangga Berislam: AFILIASI

Yaitu, kita memahami dengan baik mengapa kita memilih Islam sebagai agama dan jalan hidup. Kita meyakininya melalui dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits yang shahih. Selain itu, dapat pula melalui lembar-lembar sejarah kejayaan Islam dan ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan kekuasaan-Nya. Memahami Islam dengan baik akan membentuk Komitmen Aqidah.

Lalu kita pun mesti memahami satuan-satuan ajaran Islam sebagai sistem dan tatanan kehidupan. Sehingga kita mampu membaca dan memahami berbagai peristiwa dan masalah kehidupan dalam kacamata Islam, yang membentuk Komitmen Metodologi (Syariah).

Setelah itu, kita enjadikan Islam sebagai akhlak dan perilaku sehari-hari kita. Sebagai pribadi, dalam keluarga, dalam masyarakat, dan dalam pekerjaan, yang membentuk Komitmen Sikap (Akhlak).

Inilah tahap Iman dan Amal Shalih.

2. Tangga Berislam: PARTISIPASI

Selepas kita melalui tahap diri sendiri dalam lingkaran khusyu’ Iman dan Amal Saleh, kita mulai terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim sebagai salah satu peserta sosial yang sadar dan proaktif. Ada tiga hal yang harus Anda lakukan untuk ini;

1. Memiliki rasa keprihatinan yang tinggi terhadap permasalahan kaum muslimin. Sebab, sesiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan dari golongan Nabi Muhammad Saw.

2. Memiliki sejumlah pengetahuan sosial-humaniora yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Agar keterlibatan kita dilakukan secara sadar, terarah, dan dewasa.

Berilmulah sebelum beramal,” ujar Imam Bukhari.

Kita pun dituntut untuk menguasai peta dan medan lingkungan sosial budaya di sekitar kita. Agar kita tahu cara memasuki dan mengubah masyarakat kita ke arah Islam.

Di sini, kita menjadi Da’i.

3. Tangga Berislam: KONTRIBUSI

Yakni, kita harus memilih satu bidang spesialisasi ilmu atau profesi. Kita yakin bahwa dalam bidang tersebut kita bisa jadi expert (ulung). Kita tidak bisa menjadi segalanya, dan takkan pernah sanggup melakukan segalanya. Kemampuan kita terbatas. Maka kita harus tahu di mana persembahan kita yang setulus-tulusnya kepada Islam.

Ada empat bidang kontribusi yang dapat Anda pilih:

  1. Kontribusi Pemikiran/Ilmiah (menjadi pemikir atau ilmuwan),
  2. Kontribusi Kepemimpinan (menjadi pemimpin),
  3. Kontribusi Profesional (menjadi Profesional),
  4. Kontribusi Finansial (menjadi entrepreneur).

Sungguh, semua manusia akan merugi. Kecuali; manusia beriman, beramal saleh, berwasiat kepada kebenaran, berwasiat kepada kesabaran.” (Qs. Al-Ashr: 1-3)

***

-Disarikan dari buku Model Manusia Muslim Abad 21, Anis Matta-

5 Hikmah Mengapa Al-Quran Diturunkan Secara Bertahap

5 Hikmah Mengapa Al-Quran Diturunkan Secara Bertahap

Telah mafhum di kalangan umat Islam, bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun. Tiga belas tahun di Mekkah, dan sepuluh tahun ketika Rasulullah di Madinah. Proses turunnya Al-Quran ini berbeda dengan tiga kitab sebelumnya; Zabur, Taurat, dan Injil, yang diturunkan sekaligus dalam satu waktu.

Ternyata, turunnya Al-Quran secara bertahap bukan tanpa hikmah. Ada beberapa hal tersembunyi yang dapat kita petik dari fenomena ini.

Berikut 5 hikmah mengapa Al-Quran diturunkan secara bertahap. Ringkasan ini diambil dari buku Syaikh Manna Al-Qaththan bertajuk Mabahits fil Ulumil Qur’an.

1. Meneguhkan hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di tengah aktivitas berdakwah kepada manusia, Rasulullah senantiasa mengalami gangguan dan cobaan. Bahkan termasuk cacian, timpukan batu, hingga ancaman pembunuhan beliau rasakan. Sehingga Allah sampai menurunkan surat cinta-Nya,

“Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).” (Qs. Al-Kahfi: 6)

Wahyu turun kepada Rasulullah dari waktu ke waktu sehingga dapat meneguhkan hatinya terhadap kebenaran. Sekaligus memperkokoh azamnya untuk tetap melangkahkan kaki di jalan dakwah. Tidak peduli segala perilaku jahil orang-orang yang memusuhi beliau.

Telah menjadi sunnah illahi bahwa perjalanan Nabi sepanjang sejarah tidak pernah mulus. Akan selalu ada penolakan dan pengingkaran (Lihat Qs. Ali Imran: 184 dan Al-An’am: 33-34).

Oleh sebab itu, Rasulullah diminta bersabar dan tenang menghadapi itu semua.

“Dan kisah-kisah rasul itu Kami ceritakan kepadamu, agar dengannya Kami dapat meneguhkan hatimu.” (Qs. Hud: 120)

“Maka bersabarlah kamu seperti bersabarnya para rasul yang memiliki ulul azmi.” (Qs. Al-Ahqaf: 35)

Demikianlah ayat-ayat Al-Quran itu turun kepada Rasulullah sebagai penghibur dan pendukung beliau. Setiap kali beliau dirundung kesedihan, ayat-ayat Allah pun berdatangan. Sehingga hati beliau semakin mantap dalam berdakwah.

2. Tantangan dan Mukjizat

Orang-orang musyrik tidak henti menyerang Rasulullah. Bahkan dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud melemahkan dan menantang dakwah Sang Rasul mulia.

Pertanyaan-pertanyaan mereka segera Allah jawab dengan tegas, “Dan orang-orang kafir itu tidak datang kepadamu dengan membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik penjelasannya.” (Qs. Al-Furqan: 33)

Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas, “Apabila orang-orang musyrik memunculkan sesuatu persoalan, maka Allah langsung memberikan respon-Nya atas mereka.”

Turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur lebih efektif ketika ingin menantang kaum musyrik untuk membuat ayat serupa.

Bila Al-Quran diturunkan sekaligus, jelas sekali mereka tidak mampu menyamainya. Tetapi hanya satu ayat pun yang diturunkan oleh Allah ternyata mereka pun tidak dapat membuat ayat yang sama atau seruap dengannya.

3. Memudahkan Hafalan dan Pemahaman Al-Quran

Al-Quran yang mulia turun di tengah masyarakat yang tidak mampu membaca dan menulis. Masyarakat ini amat mengandalkan hafalan dan daya ingatnya.

Jelaslah bahwa turunnya Al-Quran secara bertahap sangan membantu mereka untuk menghafalnya. Sekaligus memberikan waktu bagi mereka untuk merenungi maknanya.

Bagi mereka, memahami lima ayat saja sudah teramat sulit. Bukan karena mereka bodoh. Tetapi sebab mereka tidak menjadikan Al-Quran sebagai pemuas intelektual semata.

Mereka sungguh-sungguh menjadikan Al-Quran sebagai rule of life, pedoman hidup. Apa yang mereka terima, segera mereka amalkan. Apa yang dilarang dilakukan, mereka tak segan meninggalkan.

Berbeda dengan kita yang sering membacanya, namun tak sedikit pun mengendap di hati.

4. Relevan dengan peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum

Manusia tidak akan mudah mengikuti dan tunduk kepada agama baru ini, jika Al-Quran tidak memberikan strategi jitu dalam merekonstruksi pikiran dan jiwa mereka.

Sebagaimana Al-Quran meletakkan dasar-dasar keimanan dan aqidah ketika agama ini pertama kali bersemi di Mekkah. Selama 13 tahun itu pula, Al-Quran mengajarkan akhlak mulia, pembersihan jiwa, dan kaidah-kaidah halal-haram.

Setelah Rasulullah dan para shahabat hijrah ke Madinah, kewajiban-kewajiban dan syariat Islam perlahan diturunkan. Seperti shalat, puasa, berjihad, hingga urusan tata negara.

Termasuk, ketika Islam melarang meminum khamr. Pada kala itu, khamr merupakan minuman sehari-hari masyarakat Arab. Sulit melarangnya jika dilakukan secara frontal, Sebab itu, ayat Al-Qur’an turun dalam tiga tahap ketika ingin melarang minuman ini. Mulai dari Qs. Al-Baqarah ayat 219, lalu diperketat lagi di Qs. An-Nisa ayat 43, hingga secara tegas melalui Qs. Al-Maidah ayat 90-91.

Al-Quran juga turun sesuai peristiwa yang terjadi di kalangan umat Islam. Sehingga para shahabat merasa terbantu untuk menemukan solusi dan permasalahan mereka dan dapat dengan mudah memahami kandungan dari setiap ayat.

5. Menegaskan bahwa Al-Quran diturunkan oleh Allah, bukan manusia

Al-Quran yang diturunkan secara berangsur-angsur ternyata memiliki rangkaian kalimat yang tersusun dengan cermat sekali. Makna antarayat pun saling bertaut. Gaya redaksi begitu teliti. Ayat dan surat saling terjalin bagaikan untaian mutiara indah yang belum ada bandingannya dalam perkataan manusia.

“Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatinya saling bertentangan di dalamnya.” (Qs. An-Nisa: 82)

Hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang merupakan puncak kefasihan sesudah Al-Quran, tidak mampu menandingi keindahan bahasa Al-Quran. Apalagi ucapan dan perkataan manusia biasa.

Allahu a’lam. []